⚑ Diberitakan duluan oleh Detik · liputan: Detik · Kompas
Kompas menekankan harapan mantan Lurah Tambak Wedi agar RT dan RW tetap fokus pada perkaranya daripada melakukan aksi mundur. Detik, di sisi lain, menggarisbawahi fakta pencopotan Lurah yang memicu protes dan menjelaskan keterkaitannya dengan skandal pungli yang melibatkan pedagang. Dari sini, perbedaan utama terletak pada fokus Kompas yang lebih pada harapan penyelesaian, sementara Detik lebih menyoroti dampak pencopotan dan reaksi protes dari para ketua RT/RW.
Polemik pencopotan Lurah Tambak Wedi berlanjut dengan ancaman dari pengurus RT/RW untuk mundur massal. Eri Cahyadi tetap pada keputusannya dan menegaskan pentingnya pengawasan terhadap pungutan liar.
Pencopotan Lurah Tambak Wedi oleh Wali Kota Surabaya memicu protes dari ketua RT/RW. Tindakan ini berkaitan dengan skandal pungli yang melibatkan pedagang.
Muchamad Yusufian merespons ancaman mundur dari RT dan RW terkait pencopotannya sebagai Lurah Tambak Wedi. Ia berharap mereka fokus pada perkaranya.