⚑ Diberitakan duluan oleh Detik · liputan: Detik · Kompas
Kompas menekankan bahwa modal awal Pusat Finansial Internasional Indonesia tidak berasal dari APBN dan bergantung pada daya saing Indonesia. Sementara itu, Detik menyoroti potensi penyerap dana sebesar Rp 500 triliun dan mengingatkan adanya persaingan dari pusat finansial global lainnya. Perbedaan utama antara kedua sumber terletak pada fokus Kompas yang lebih pada sumber pengembangan dan daya saing, sedangkan Detik lebih menyoroti potensi dan tantangan yang dihadapi.
Kementerian Keuangan memperkirakan Pusat Finansial Internasional Indonesia bisa menyerap dana Rp 500 triliun. Namun, terdapat persaingan dari pusat finansial global lainnya.
Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) ditargetkan menarik investasi hingga Rp 500 triliun. Dana tersebut bergantung pada daya saing Indonesia dengan pusat keuangan global lainnya.